R.B. Motik

Thursday, January 04, 2001

5:50 AM

Beberapa ari terkahir ini saya sangat gemar membaca buku-buku sejarah biografi tokoh-tokoh pahlawan bangsa di perpustakaan. semula keinginan saya itu berasal dari hasrat untuk mencari tahu apa yang dipikirkan oleh para pemdahulu dan pemimpin bangsa saat itu dan segaligus sebagai contoh dari leading role yang nantinya saya harapkan dapat membantu saya dalam memebangun karakterk pribadi yang lebih baik. Ketika menulis post ini saya sedang dalam masa membaca dua buah buku yang mengkomnetari  regime pemerintahan yang sama tepatnya OrBa. Buku yang pertama adalaha bibliografi dari seorang Purnawirawan M. Jasin yang berjudul ‘M. Jasin, saya tidak pernah minta ampun kepada soeharto’, sedangkan buku yang kedua adalah suatu biografi tokoh R.B Motik yang ditulis oleh Imam halilintars berjudul ‘Majukan Olehmu Tanahair Indonesia Kita ‘.

Kedua buku tersebut menceritakan tentang kehidupan mulai dari kecil dari tokoh yang bersangkutan. Untuk lebih spesifik berikut adalah review singkat dari kedua buku .

Majukan Olehmu Tanahair Indonesia Kita

Judul yang sangat menggugah bukan?

Buku ini terbit pada tahun 1986 pada masa pemerintahan presiden soeharto. Bapak Motik sendiri adalah seorang putra dari daerah Bungamas, Palembang, yang diceritakan sejak berumur 15 tahun telah menginjakkan diri di Ibu kota Batavia sebagai soerang pelajar. Selagi belia beliau terkenal pemberontak, cerdas dan memiliki jiwa kepemimpinan yang besar. Dalam buku ini pula beliau mendapat gelar tokoh perintis ekonomi nasional karena memiliki jabatan sebagai ketua KADIN pertama di Indonesia. Beliau dianggap sebagai perintis dari perkembangan perekonomian swasta di indonesia.

Dalam buku ini terdapat 17 chapter.

Chapter 1. Batavia Anno 1927
Chapter 2. Menginjakkan kaki kembali ke batavia
Chapter 3. “swana puspa” tanaha kelahiran
Chapter 4. “selamat tinggal, mas Mangun!”
Cahpter 5. “Majukan olehmu tanahair indonesia kita”
Chapter 6. Adat yang salah kaprah
Chapter 7. Menentang kolonialisme dengan senjata budaya
Chapter 8. Menyunting garis muara enim
Chapter 9. “perwabi”, cikal-bakal organisasi pengusaha swastanasional
Chapter 10. Persahabatan dengan proklamator kemerdekaan RI
Chapter 11. Dari proklamasi sampai pengakuan kedaulatan
Chapter 12. “Motor” organisasi pengusaha rakyat
Chapter 13. “benteng group” seleksi pengusaha nasional asli
Chapter 14. “deklarasi ekomoni” dalam “demokrasi terpimpin”
Chapter 15. Keluarga Ambtenaar melahirkan keluarga wiraswasta
Chapter 16. Perkenalan dengan pemimpin orde baru
Chapter 17. Sisi lain dari wajah seorang pengusaha sukses

Garis besar isi biogafi ini adalah,

sebagai anak dari seorang Pesirah Desa Bungamas, Palembang Hulu, beliau lahir dan tumbuh memiliki sifat yang keras, cerdas, pemberontak, dan berjiwa pemimpin. Dalam buku ini semua sifat tersebut dijelaskan secara eksplisit kepada pembaca. Karena kecerdasannya beliau lalu dapat melanjutkan sekolah ke batavia dan bersekolah di sekolah untuk pribumi bernama Normaal School. Disana beliau mengungkapkan kekesalannya kepada meneer-meneer belanda yang secara seenaknya memperlakuan suatu aturan yang tidak masuk akal baginya. Baginya perlakuan para meneer tersebut seperti mewajibkan para siswa untuk tidur pada alas tidur yang telah disediakan sekolah yang memiliki ketebalan 1 ruas jari sangat menyiksanya, lalu dia pun merasakan bahwa meneer yang menjadi kepala sekolahnya selama di normaal school adalah seorang yang tidak berdedikasi atas pekerjaannya, lepas tangan dan seolah-olah meninggalkan tanggung jawab. Padahal pada masa itu adalah masa di mana belanda melakukan suatu politik balas budi kepada bangsa Indonesia. Sungguh suatu bentuk ketimpangan penegakan aturan oleh kolonial belanda.

Akhirnyan pada tingkat 2 beliau menentang dan berhasil mengajak teman-temannya untuk melakukan staking alias mogok dan kabur dari sekolah menuju bogor. Namun kegiatan staking tersebut gagal karena tujuan dari kegiatan tersebut masi absurd dan tanpa arah. Akibatnya beliau kemudian di keluarkan dari normaal school dan dikembalikan kepada orang tuanya di palembang. Merasa hiduonya tidak akan maju di daerah asalnya, dia lalu memutukan untuk kembali ke batavia dan bersekolah kembali. Dia berhasil masuk ke sekolah Taman siswa yang dibawahi oleh KI mangunsarkoro. Selama menjaalani pendidikan disana, beluai memang terkenal pintar dan dikatakan dekat dengan petinggi sekolah. Setelah lulus, beliau ditawari untuk menjadi kepala sekolah di suatu sekolah di palembang, tapi di tolak dan lebih memutuskan untuk mejadi guru di taman siswa. Akhirnya beliau mejadi seorang guru di sana. Hubungan antara Kimangunsarkoro dengan Motik sendiri sanagt baik, bahkan dituliskan dalam buku ini bahwa “sebagai anak yang disayangi oleh pemimpin taman siswa, aku sangat leluasa untuk mengetahui keadaan kehidupan pimpinan.”. Nyata lah bahwa hubungan mereka mamnag dekat.

Menjadi guru dirasakannya sebagai bentuk perjuangan melawan kolonial belanda, karena itu meski selama mengabdi digaji kecil, bersama-sama guru-guru yang lain dilakukannya dengan lapang dada. Prinsip pendidikan yang ditawarkan oleh taman siswa adalah kesederhanaan dan merakyat. Namun prinsip tersebut dirasakan tidak dilakukan oleh sang kepala sekolah taman siswa cabang batavia saat itu, Ki mangunsarkoro, menurut pendapat para guru-guru, Ki mangunsarkoro adalah seorang yang tidak sederhana dan justru melanggar aturan yang telah dibuat oleh Ki Hajar Dewantara. Dan selama masa pengabdiannya beliau dan guru-guru laninnya yang dikoordinir oleh Armjine Pane, mengadakan suatu koreksi total terhadap gaya kehidupan ki Mangunsarkoro yag dianggap tidak sederhana dan tidak menaati AD/ART taman siswa. Terjadilah perpacahan dalam sekolah taman siswa cabang Batavia, dan ujungnya para guru-guru yang memberontak memisahkan diri dari taman siswa cabang batavia dan membuat sekolah baru bernama sekolah budiarti. Lalu diceritakan bahwa  armjine Pane yang saatitu seharusnya memimpin para guru, tiba-tiba pergi. Jadilah dikatakan kira-kira dalam buku ini “Karena Armjine Pane sudah tidak ada, maka segala perjuangan kami kembali berporos kapada saya”. Artinya Motik lah yang menjadi pimpinan pergerakan guru sekolah budiarti saat itu.

Selama menajdi guru itu, motik sempat menulis beberapa artikel koran dan sempat menulis buku pegangan bahasa Indonesia yang pertama. Aktif dalam kegiatan tulis-menulis, dia lalu mengkritik struktural kultural masyarakat palembang yang dianggapnya menyeleweng, dalam hal melarang warganya untuk menikah dengan saudara dekat. Dia menganggap bahwa adat itu tidak ada dalam agama, sehingga harus dikritik dan dilawan.

Yang terasa ganjil adalah, mengapa selama periode hidupnya 1912-1981, dalam buku ini bapak Motik hanya mencantumkan sejarah kehidupannnya tentang pemerintahan OrBa dalam satu chapter saja yaitu chapter 16. padahal menurut saya, seharusnya penjelasan mengenai kehidupan dari tokoh ini justru akan baru dimulai pada masa pemerintahan soeharto (OrBa) dimana penyelewengan akan banyak didapatinya. Say rasa sebagai tokoh yang digambarkan pemberontak, cerdas, dan berjiwa pemimpn yang besar, sudah sewajarnya jika beliau akan merasa terusik oleh ulah dari presiden indonesia saat itu.  Nyatanya tidak sama sekali.

Saya hanya seorang mahasiswa yang baru bisa mengomentari isi dari buku ini, bagaimanapun kita tidak boleh menelan suatu inormasi yang baru diterima dari orang lain secara utuh tanpa dicerna kembali, itulah prinsip curiousity yang diterapkan.

Ada hal lain yang saya herankan mengenai isi dari buku ini, yaitu bukankah mencetak buku pada masa regime OrBa (1986), apalagi jika buku itu menceritakan tentang gejolak-gejolak politik mulai dari masa proklamasi sampai orde baru, sehrusnya akan mendapat kan suatu tindakan pembinasaan dari pemerintah Orba? Nyatanya tidak!

Apalagi jika diperhatikan, ketika buku ini terbit, di bagian kata pengantar terdapat surat pernyataan yang seolah-olah ‘merestui’ diterbitkannya buku ini, ada surat pernyataan dari Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Bpk. H. Alamsyah Ratu Perwiranegara)plus ketua KADIN Indonesia saat itu (Sukamdani S. Gitosardjono). Dan memang ada sesuatu yang tidak beres di dalam buku ini.

 

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: